Teori Komunikasi Keperawatan

Teori Komunikasi Keperawatan

Pada proses keperawatan komunikasi merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan, karena sejak awal sampai akhir sangat diperlukan komunikasi. Dengan komunikasi yang efektif dengan mudah pesan dapat diterima oleh pasien dan agar tujuan dapat dicapai dengan baik.

Ketika pertama kali terlibat interaksi dengan pasien timbulah pertanyaan "Dengan Cara apa anda memperoleh pengetahuan tentang pasien anda ?". Ini bukan pekerjaan yang mudah, justru terkadang menjadi penghambat untuk menciptakan hubungan yang efektif. Dengan komunikasi yang efektif juga akan menimbulkan rasa percaya dan rasa nyaman pasien.

Komunikasi dalam Keperawatan

Hubungan perawat-pasien tidak sekadar hubungan mutualis. Travelbee (1971) menyebut hubungan ini sebagai "a human to human relationship". Kelemahan yang ada pada perawat dan pasien menjadi hilang ketika masing-masing pihak yang terlibat interaksi mencoba memahami kondisi masing-masing. Perawat menggunakan keterampilan komunikasi interpersonalnya untuk mengembangkan hubungan dengan klien yang akan menghasilkan pemahaman tentang klien sebagai manusia yang utuh. Hubungan semacam ini bersifat terapeutik yang akan meningkatkan iklim psikologi yang kondusif dan memfasilitasi perubahan dan perkembangan positif pada diri pasien.

Bagaimana seseorang melakukan komunikasi itu dalam berhubungan dengan orang lain. Rogers mengidentifikasi ada tiga faktor mendasar dalam rangka menciptakan hubungan yang saling membantu.
  1. Pertama, Orang yang membantu harus memahami sebenar-benarnya tentang siapa dirinya.
  2. Kedua, Orang yang membantu harus menunjukkan rasa empatinya.
  3. Ketiga, orang yang dibantu harus merasa bebas untuk mengeluarkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan dirinya dalam hubungan tersebut.

Karakteristik Komunikasi Keperawatan

Ada tiga hal mendasar yang memberi ciri-ciri komunikasi dalam keperawatan yaitu keikhlasan (genuineness), empati (empathy), dan kehangatan (warmth).

Genuineness / Keikhlasan

Dalam rangka membantu klien, perawat harus menyadari tentang nilai, sikap, dan perasaan yang dimiliki terhadap keadaan klien. Apa yang perawat pikirkan dan rasakan tentang individu dan dengan siapa dia berinteraksi selalu dikomunikasikan pada individu, baik secara verbal maupun nonverbal. Perawat yang mampu menunjukkan rasa ikhlasnya mempunyai kesadaran mengenai sikap yang dipunyai terhadap pasien sehingga mampu belajar untuk mengomunikasikannya secara tepat. Perawat tidak akan menolak segala bentuk perasaan negatif yang dipunyai klien, bahkan ia akan berusaha berinteraksi dengan klien. Hasilnya, perawat akan mampu mengeluarkan segala perasaan yang dimiliki dengan cara yang tepat, bukan dengan cara menyalahkan atau menghukum klien.

Tidak selalu mudah melakukan suatu keikhlasan. Untuk menjadi lebih percaya diri tentang perasaan dan nilai-nilai yang dimiliki membutuhkan pengembangan diri yang dapat dipertimbangkan dilakukan setiap saat. Sehingga, sekali perawat mampu untuk menyatakan apa yang dia inginkan untuk membantu memulihkan kondisi pasien dengan cara yang tidak mengancam, pada saat itu pula kapasitas yang dimiliki untuk mencapai hubungan yang saling menguntungkan akan meningkat secara bermakna.

Empathy / Empati

Empati merupakan perasaan "pemahaman" dan "penerimaan" perawat terhadap perasaan yang dialami klien dan kemampuan merasakan "dunia pribadi pasien". Empati merupakan sesuatu yang jujur, sensitif, dan tidak dibuat-buat (objektif) didasarkan atas apa yang dialami orang lain. Empati berbeda dengan simpati. Simpati merupakan kecenderungan berpikir atau merasakan apa yang sedang dilakukan atau dirasakan oleh pasien. Karenanya, simpati lebih bersifat subjektif dengan melihat "dunia orang lain" untuk mencegah perspektif yang lebih jelas dari semua sisi yang ada tentang isu-isu yang sedang dialami seseorang.

Empati cenderung bergantung pada kesamaan pengalaman di antara orang yang terlibat komunikasi. Perawat akan lebih mudah mengatasi nyeri pada pasien, misalnya, jika dia mempunyai pengalaman yang sama tentang nyeri. Karena hal ini sulit dilakukan, kecuali karena adanya keseragaman atau kesamaan pengalaman atau situasi yang relevan, perawat terkadang sulit untuk berperilaku empati pada semua situasi. Namun demikian, empati bisa dikatakan sebagai "kunci" sukses dalam berkomunikasi dan ikut memberikan dukungan tentang apa yang sedang dirasakan klien.

Sebagai "perawat empatik", perawat harus berusaha keras untuk mengetahui secara pasti apa yang sedang dipikirkan dan dialami klien. Pada kondisi seperti ini, empati dapat di-ekspresikan melalui berbagai cara yang dapat dipakai ketika dibutuhkan, mengatakan sesuatu tentang apa yang perawat pikirkan tentang klien, dan memperlihatkan kesadaran tentang apa yang saat ini sedang dialami pasien. Empati membolehkan perawat untuk berpartisipasi sejenak terhadap sesuatu yang terkait dengan emosi klien. Perawat yang berempati dengan orang lain dapat menghindarkan penilaian berdasarkan kata hati (impulsive judgement) tentang seseorang dan pada umumnya dengan empati dia akan menjadi lebih sensitif dan ikhlas.

Warmth / Kehangatan

Hubungan yang saling membantu (helping relationship) dibuat untuk memberikan kesempatan klien mengeluarkan "unek-unek" (perasaan dan nilai-nilai) secara bebas. Dengan kehangatan, perawat akan mendorong klien untuk meng-ekspresikan ide-ide dan menuangkannya dalam bentuk perbuatan tanpa rasa takut dimaki atau dikonfrontasi. Suasana yang hangat, permisif, dan tanpa adanya ancaman menunjukkan adanya rasa penerimaan perawat terhadap pasien. Sehingga pasien akan mengekspresikan perasaannya secara lebih mendalam. Kondisi ini akan membuat perawat mempunyai kesempaan lebih luas untuk mengetahui kebutuhan klien. Kehangatan juga dapat dikomunikasikan secara nonverbal. Penampilan yang tenang, suara yang meyakinkan, dan pegangan tangan yang halus menunjukkan rasa belas kasihan atau kasih sayang perawat terhadap pasien.

Diambil dari buku : Komunikasi dalam keperawatan, Arwani, 2003.
your ads here

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 . You can leave a response or trackback to this entry
Creative Commons License
Blog Article by Blogger Wuryantoro is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License . Based on a work at Teori Komunikasi Keperawatan . Permissions beyond the scope of this license may be available at http://infowuryantoro.blogspot.com/ .

comments for " Teori Komunikasi Keperawatan "

PING

PING  |  PING  |  PING